Thursday, July 16, 2009

semua tentang saya

menulis hal-hal menyedihkan lebih mudah buat saya ketimbang menulis hal-hal menyenangkan. terlebih menulis tentang orang lain, walaupun kemampuan mengobservasi saya tidaklah tajam dan terdeskripsikan dengan jelas. hanya akan sedikit mudah dituliskan bila lah saya secara tidak langsung merupakan bagian dari kejadian atau orang tersebut.
saya jelas orang yang kurang sensitif terhadap lingkungan atau mungkin tidak peka. tapi saya punya alasan untuk melakukan dan bersikap seperti itu, karena saya justru amat sangat sensitif maka saya menjadi tidak peka. begini contoh sederhananya, saya lebih sering berjalan menunduk dan mendengarkan mp3 daripada menatap ke depan dan memperhatikan samping kiri kanan perjalanan kaki saya dan melemparkan senyum kepada orang-orang yang saya temui di jalan baik saya kenal atau tidak. tapi pernah, pernah saya melakukannya dan hasilnya menyenangkan karena orang-orang itu yang tidak saya kenal itu juga membalas senyum saya dan langkah saya menjadi lebih ringan dan mantap. tapi bagaimana saya bisa tersenyum selalu bila jalanan yang saya lalui lebih banyak orang meminta-minta dan menengadahkan tangannya untuk sekedar meminta belas kasih dari orang-orang yang lewat. apakah senyum saya cukup baginya. apa pikirnya bila saya hanya melemparkan senyum setiap kali melewatinya duduk di jembatan penyeberangan dan di pinggir jalan itu? barangkali yang dipikirkan "saya tidak perlu senyummu mbak, saya butuh uangmu untuk makan, untuk beli baju, untuk bayar kotak tempat tidur saya".
jadi yang terjadi selanjutnya adalah saya yakini adalah lebih parah dari tersenyum, karena saya menundukkan kepala dan sama sekali tidak menatap mereka, saya bahkan berlagak mereka tak ada atau tak tampak, saya kadang memalingkan wajah berpura-pura tidak melihat mereka hanya karena saya tidak tega melihat mereka, menatap telapak tangannya dan melihat wajahnya yang hitam legam terbakar matahari. saya mudah menangis.
tapi kenapa saya juga tidaklah memberi apa yang mereka harapkan? sedikit dari beberapa ribu yang saya habiskan setiap harinya, apa beratnya? jawab saya "sama sekali tidak berat, tidak ada yang berat dari sedekah". tapi sekali lagi kenapa saya tidak memberi mereka, seperti dulu-dulu? ya, saya dulu rajin memberi mereka, dan saya percaya bahwa semakin banyak dan ikhlas saya memberi semakin banyak milik saya sendiri. jawabannya adalah otak saya sudah memilih untuk tidak (sering) melakukan itu lagi karena otak saya pernah menonton dan membaca bahwa sebagaian dari mereka adalah orang-orang pemalas yang lebih senang merendahkan diri mereka dengan menengadahkan tangan meminta belas kasihan orang lain yang telah berusaha keras mendapatkan segala sesuatu untuk menjalani hidup ini. bahwa otak saya menyuruh mata saya untuk tidak percaya bahwa seorang ibu meletakkan tiga orang anaknya yang masih kecil-kecil dan sebaya dan apakah mungkin mereka bisa lahir dalam waktu bersamaan dan jadi apakah mungkin mereka anak si ibu ini untuk bersama-sama mengemis di jembatan penyeberangan itu sampai malam hari dan di titik yang sama setiap hari...setiap hari!. ibu macam apakah itu, dan bapak macam apakah itu yang mampu mengumbar nafsunya untuk bisa menghamili ibu itu dan membiarkan si ibu sendirian memberi makan mereka, paling tidak itu yang tampak dari luar dan saya lihat.
jadi otak saya memutuskan untuk mendiamkan mereka, saya tak tergoyahkan sejak saja rajin melewati jembatan-jembatan penyeberangan itu. kenapa? lagi-lagi saya punya alasan lain:
fakir miskin dan anak terlantar adalah tanggung jawab negara, tapi kenapa negaraku masih terlihat sebaran mereka di tempat-tempat itu, apa yang telah negaraku lakukan untuk mereka?
anak-anak adalah tanggung jawab orang tuanya atau lebih tepatnya bapaknya tapi dimana bapak-bapaknya dan kenapa anak-anak itu tidak ditempatkan di sekolah atau paling tidak bila malam tiba diletakkan ditempat yang layak.
banyak sarana untuk membantu mereka yang fakir dan miskin namun tidak merendahkan diri mereka, mereka yang tetap berusaha, bekerja dan menjaga harga dirinya, mereka adalah para pejuang tangguh yang mana saya mengagumi kegigihan mereka. contohnya pembantu saya, office boy di kantor saya, pedagang rokok di pinggir jalan, pedagang gorengan yang walaupun bisa menyebabkan jerawatan dan typus bila kebanyakan makan gorenan, penyapu jalan, pedagang kue-kue kecil...ah saya jadi ingat dengan pedagang kue tradisional depan kantor saya, saya kan mulai sering membelinya untuk membantunya. walaupun ada hal-hal yang mengganjal dari sebagian usaha mereka, lagi-lagi negara saya, apa yang telah negara saya lakukan untuk mereka, karena para pejuang tangguh ini melakukan usaha dimanapun dan kapanpun mereka mau. mereka hampir tidak memperdulikan larangan tempat, larangan rambu lalulintas, keindahan tata kota, kebersihan dan kenyamanan pemandangan dan kenyamanan berjalan di trotoar.
ah negaraku, sulitnya mengurus hal yang kelihatannya sepele seperti itu, bahkan hanya sekota "kecil" ibukota inipun sulit sekali apalagi beribu-ribu pulau di negaraku. jelas saya tidak akan mencalonkan diri menjadi presiden sepertinya dalam sepuluh tahun ke depan, karena mengurusi pengemis dan pejuang tangguh pinggir jalan saja saya tak mampu, saya hanya bisa berdalih seperti orang-orang itu bahwa itu adalah masalah kompleks, perlu penanganan integral, payung hukum integral, perlu komitmen bersama..bla..bla..bla...
jadi apa yang bisa saya lakukan? saya mencoba melakukan hal yang menurut saya baik untuk menjadikannya lebih baik di lingkup semampu saya, maka teman-teman saya dan saya membuat 20ribuanakasuh kami dan obsesi kami. kami tau itu masih kurang dan amat sangat kurang sekali tapi paling tidak kami punya hati.
terlalu banyak saya di dalam tulisan ini, semua sebenarnya tentang saya, ...saya dan saya...tulisan adalah selalu tentang saya ...sebenarnya dan bukan tentang mereka. kesombongan saya.
(bila tulisan tentang saya mampu membuat orang berpikir tentang diri mereka dan orang lain dan berbuat lebih baik, mencoba lebih baik, membantu untuk menjadi lebih baik dan tidak hanya diam maka saya akan tetap dan terus menulis tentang diri saya sampai tidak ada saya lagi karena toh saya ada karena mereka)

Friday, July 03, 2009

outside the box

emailnya kali ini berbunyi
"......apa dia tidak mikir, itu akan menyakiti saja........ibarat luka yang sudah mau kering, basah lagi, or menuju kering, basah lagi........aku hanya melihat dari luar kotak, soalnya kamu masih di dalam kotak....."
adalah
email terkeras panjang yang pernah dia sampaikan kepadanya. bukan sebuah kemarahan tapi sebuah "kegemasan" dan kasih sayang karena tidak ingin melihatnya semakin jatuh, tenggelam dan hancur. sebuah ketidakrelaan melihatnya dipermainkan dan disakiti lagi. dan hanya dia yang tau bila sesuatu terjadi padanya akibat dari semua itu maka dia tau kemana dan siapa yang harus bertanggung jawab atas semua itu dan apa yang harus dia ceritakan kepada seluruh orang terkasihnya.

(selalu yang berada di luar kotak yang bisa melihat lebih jernih)

Tuesday, May 05, 2009

the way she looks

handphonenya berbunyi pelan menandakan ada sms masuk. sejenak tidak dia hiraukan karena diskusi dalam rapat itu cukup memakan perhatiannya. setelah agak sela tanpa perlu mencatat sesuatu pembicaraan penting dia mengambil handphonenya dan membaca pesan singkat dari seseorang di dalam ruangan itu pula. isi sms itu cukup membuatnya terhenyak, mengejutkannya dan membuatnya sedikit kehilangan konsentrasi ketika harus mengikuti diskusi secara intens.
pengirim pesan itu sama sekali tidak mengatakan apapun tentang materi diskusi yang tengah mereka bahas atau kritik atas perannya dalam diskusi itu tapi hal lain:
"mbak...senang deh lihat mbak tampil seksi dan tambah cantik dengan balutan baju itu...baju baru ya"
letak duduk mereka hanya dipisahkan oleh dua orang lainnya tapi sms tersebut telah membuatnya tiba-tiba salah tingkah dan berpikir beberapa jenak apa jawaban yang bagus, baik dan sopan untuk diberikan pada mitra kerja nya yang tidak hanya telah berkeluarga tapi juga memiliki jabatan tersebut, atau perlukah dibalas? tapi apa nanti pikirnya bila tak dibalasnya?...dilema...mungkin bila tidak ada kata-kata "seksi" maka dia akan menganggapnya sebuah pujian biasa dan bila tidak diucapkan dalam bentuk sms maka itu bukan sesuatu yang berkesan 'personal'
'tidak baru kok, pak. Alhamdulillah, pak. terima kasih"...sent.
("ya Tuhan, semoga apa yang saya lakukan benar")...itu doanya ketika dia langsung mencoba fokus dengan diskusi kembali.
kata-kata alhamdulillah dipikirnya cukup untuk menghentikan 'topik' itu, tapi sesaat sms lain masuk, dan dia tidak berani membukanya....setelah beberapa lama dan dari ekor matanya dia melirik ke samping kanan bahwa sang pengirim sms tengah mengamatinya dengan posisi duduk yang menghadap padanya maka dibukalah sms itu.
"saya setuju kalau mbak selalu tampil cantik, menarik dan seksi"
("oh Tuhan, kenapa kata-kata seksi itu masih muncul lagi?? apa yang salah dengan penampilan saya yang hanya mengenakan kemeja dan celana kerja? tanpa riasan make-up apapun kecuali eye-liner tipis yang mulai memudar dan bedak tabur yang juga cepat luntur? ampuni saya Tuhan..")

dia bukan perempuan yang cantik dan menarik sebenarnya, dengan tinggi rata-rata perempuan asia dengan berat badan yang cukup, berwajah bulat dan berhidung rendah khas dataran jawa. diusianya yang hampir 40 tahun pada enam tahun lagi bila masih diberi kesempatan hidup, dia belum pernah menikah. mendapatkan kata-kata "cantik" yang menimbulkan persepsi 'tertentu' adalah sesuatu yang tentunya membuatnya sedikit terbang dari tempat dia berada saat itu tapi bagaimana bila semua itu terlontar dari orang-orang yang dia hormati, dia jaga jarak hubungan kecuali hubungan kerja dan sama sekali bukan orang-orang yang dia harap untuk mengucapkan itu semua kepada dirinya , membuatnya bertanya dan introspeksi diri....
("what have i done?...is it good or bad comment from him?..is it the way i look? the way i dress up? the way i talk and say something? or my gesture?or is it the way i make eye contact?")


bukan kali pertama kata-kata 'manis' dari orang-orang yang dianggapnya 'tidak tepat' itu dia dengar secara langsung. dan menjawab dengan "terima kasih" kepada mereka yang mengatakan itu langsung ke telinganya adalah cukup!!!
dia ingin bertanya kepada para lelaki itu "kenapa kamu harus mengucapkan yang ada di otak dan pikiran kamu itu kepada saya? apa maksudmu?, karena se-bullshit apapun saya hanya ingin mendengar kalimat itu semua hanya dari satu orang saja yaitu kekasih saya...dan bukan kamu..yang sudah menjadi milik dan kekasih orang lain!....kenapa?"

(tidak akan dianalisa lebih lanjut kisah di atas, semua berhak menyampaikan pendapatnya masing-masing, baik tentang isi crita, tentang si pengirim pesan dan penerima, tentang situasinya, tentang kondisinya...dan tentang siapa dan apa dia)

Wednesday, April 29, 2009

swatch

semalam koleksi swatch ku bertambah satu, so total ada 7 (3 diantaranya oleh2 dr swiss dan denmark..ato lebih tepatnya yg 1 adalah oleh2 dr denmark buat nyokap yg gak bliau pake dan saya embat..hihii... tp dah sy ganti penampakannya tuh).

kenapa swatch?...aah ini gara2 ipar saya dulu kasi oleh2 swatch and setelah diamat-amati swatch memiliki ciri yang amat sangat khas yang kl toh dipalsukan tak kan sebagus aslinya (mo bilang: saya bakal langsung tau kl lu pake swatch palsu ...hehehe..), yaitu ujung di mana tali jam itu melekat di jamnya memiliki 4 sekat atau terbagi dalam tiga bagian, ini berlaku untuk model dan jenis apapun kluaran swatch, mau bulat, persegi, besar ato kecil...smua sama!. trusnya lagi, penampakan atasnya yang juga khas untuk smua jenis dan model apapun yaitu lengkungan ke atasnya.

soal harga, swatch tidak lah dibilang mahal, kl gak salah semahal-mahalnya paling Rp1,9jtan .... saya gak bakal bli yang seharga itu bukan karena mahal (juga sih) tp karena biasanya modelnya yang memiliki tombol 3 untuk mengatur mesin-mesinnya (apa coba kebutuhan saya atas tombol itu smua secara jam itu adalah asesoris buat saya). temen saya yang dulu jg koleksi swatch begitu naik pangkat langsung ganti merk jam, karena swatch tidak menunjukkan prestige untuk ukuran manager yang bisa beli jam harga 20jtan...hebat man!

swatch juga "pintar" berpromosi, event apapun (hampir setiap season ada event) dia pasti kluar model baru....aah sayang saya tidak sekaya itu untuk menambah koleksi saya setiap season ato event...contohnya: pas kemarin ada film 007 (villain club), gak satupun model yg saya suka karena saya terlalu konservatif sebenarnya. dari 7 buah koleksi hanya 1 yang berbahan plastik karena demi memenuhi 'kebutuhan' untuk sporty dan pas saat olah raga. ternyata pernah ada temen yang merhatiin saya, dia sempat nawarin koleksinya tapi skali lagi....saya gak suka yang berbahan plastik, kurang chick aja ;)

Sebenarnya kalo dibilang kolektor tidak juga (walopun sudah tertulis sebagai loyal customer di swatch grand indo) karena saya tidak pernah menghafalkan juga nama modelnya ato serinya ato mengecek katalog tiap season nya. saya hanya membeli itu semua untuk memenuhi kebutuhan akan "mix and match" aja dengan penampilan saya.

so, swatch saya bermodel:
  1. bertali hitam (sudah ganti tali 2 kali terakhir ketika di barcelona...my favourite wrist band) dan jam nya berbasis putih, thn produksi: 1997, swatch pertama saya punya, oleh2 dr swiss kt ipar saya dulu;
  2. marun kecil berbahan stainless, model thn: 1998 (ini yang ngembat dr nyokap);
  3. bertali dengan batu warna-warni dan kecil modelnya lebih mirip seperti gelang biasanya dipake pas mo centil, model tahun: 1999 (kl gak salah),
  4. polos stainless berbasis hitam besarnya cocok untuk ladies, model tahun 1999, ini swatch pertama yg bisa kubli sendiri di thn 2000;
  5. bertali emas, koleksi spring season, model tahun: 2007, hanya kupakai kl kondangan dengan baju yang berwarna cream tentunya, ato kalo lagi iseng (habis warnanya emas sih...hehehe)
  6. sporty warna merah dan tahan air (oya smua swatch itu water resistant,...aaah apa sih jam yg gak water resistant skrg ini kecuali yg palsu) model thn: 2006, buat kl lagi aktivitas outdoor, brenang, nge-gym (kayak sy suka olah raga aja ya? wakakakak....);
  7. bertali kulit warna coklat, dasarnya abu-abu, model tahun 2008, dengan lingkar jam paling besar di antara koleksi saya yg lain tapi dibuat untuk cewek karena penunjuk detik dan benangnya berwarna pink...pilihan sulit untuk jam dengan tali coklat krn yang lainnya konservatif dan agak lebih macho tapi hampir semua temen bilang itu cocok buatku tapi saya milih yang satunya ini (so...yang itu save buat nanti lagi aja gimana? hehehe...), gara-gara menunda dr thn lalu pas masuk 2009 semua swatch naik 100rb (sedikit menyesal knp gak dr kmrn2 krn kl dipikir...sepatu-sepatu itu jg gak jauh beda harganya ma swatch lah.
kelebihan lain swatch adalah, tahan lama baterainya, walaupun bentuk wrist band nya khusus tapi dapat diganti-ganti (walopun harga wrist bandnya jg gak murah bahkan ada yg seharga jam baru ...)
baru kali ini saya bener-bener buka websitenya sebenernya.

saya pamer? ah nggak ah...saya emang suka berbagi apa yang saya suka aja....seperti halnya saya slalu bilang bahwa faceshop bagus buat kulit asia, siapa tau pada cocok pan seru kl punya hal-hal yang sama dan bisa diomongin...;).
herannya pas di geneva saya gak nemu gerai swatch...mungkin krn dah kecapekan backpacking kliling austria kl ya...pas di geneva akhirnya cm nongkrong di starbuck (konyol!).

Monday, April 13, 2009

soul and light


is the theme of present CCF's exhibiton.

a sculpture and graphic exhibition by romanian artist ELENA SURDU STANESCU.

last night was my second time i watched that exhibition and for the second time i wrote "c'est magnifique, bravo elena!!!".

i love all the sculptures and the paintings, especially the painting. i cannot describe my admiration but i think these links can explain more about the artist and the arts.

(i wish i had this and put it in my home)

Thursday, March 05, 2009

be kind to yourself...my dear friend.

diam.......
(masih) diam...........diselingi saling menatap dan curi pandang sesaat.
kemudian........

"saya boleh marah padanya?"
"kenapa nggak? marahlah!"
"tapi bukan marah yang mencak-mencak dan memaki-makinya, tapi marah...merasa marah padanya"
"marahlah! lampiaskan semua"
"saya ingin menunjukkan padanya bahwa saya benar-benar terluka, hancur, tidak bahagia, dan marah"

diam.........lagi-lagi diam ...............

masing-masing menatap dinding di belakangnya.

"buat apa menunjukkan itu semua ke dia?"
"agar dia tau hasilnya, agar sepadan dengan kehebohan yang terjadi selama ini, agar klimaks, agar berhenti dan berakhir dengan tuntas dan bukannya tidak merasakan apapun seperti sekarang, saya takut tidak bisa merasakan apapun lagi karena itu"
"kamu tidak harus merasakan itu semua"
"saya takut saya 'mati' sebelum waktunya saya benar-benar mati"

diam............


"bukan karena dia, tapi karena apa yang dia katakan terhadap saya selama ini"
"apa itu...?"
"banyak. salah satunya, saya benci mengingat ketika dia bilang bahwa segala sesuatu ada resikonya, sakit adalah salah satunya dan kamu harusnya bisa menanggung itu"
"kenapa kamu benci itu?"
"karena dia (sepertinya) tidak tau bahwa saya lebih dari sakit, amat sangat sakit bahkan, mulai mati rasa bahkan dan dia tidak tau bahwa saya menderita oleh itu semua...semuanya. saya mungkin sudah mulai sakit jiwa karena itu semua, nah mungkin yang ini dia sudah tau"
"kamu sebenarnya sudah menghentikan dan marah padanya dulu..sejak lama, jadi kamu tidak merasakan apapun sekarang. kamu sudah mematikannya dari dulu"
"tapi saya marah sekarang....dan ...saya takut...saya membencinya ...dan mengutuknya"

diam............

hanya diam...........

"aku mulai belajar, bahwa kita tidak bisa menilai berat ringannya rasa sakit seseorang dengan rasa sakit yang bisa kita rasakan untuk kasus yang sama"
"atau saya marah dengan diri sendiri karena kebodohan saya sendiri dan merasa malu"
"kenapa harus malu?"
"atau malu pada diri sendiri"
"kenapa harus malu? tidak perlu malu dengan rasa cintamu. be kind to yourself...my dear friend"

" you too...."

diam...........

(itulah kenapa, kita dianjurkan menengok orang sakit, menghiburnya, dan mendoakannya karena kadang-kadang derita kita tidak seberat deritanya pada saat kita mrasa menjadi orang yang paling merana di seluruh jagat raya ini ternyata ada orang yang tidak dapat menanggung derita yang kita anggap sakit ringan)

Monday, February 02, 2009

waktu dan kehidupan

waktu memang bisa menyembuhkan luka, menjadikan buah lebih matang, membuat kembang lebih mekar dan semerbak, namun waktu jugalah yang bisa membuat derita, merubah sikap, melayukan dan merontokkan daun-daun serta bunga-bunganya...dan mematikan yang hidup. tidak ada siapapun yang bisa melawan waktu dalam bentuk apapun. dia terus berjalan dengan pasti, teratur, dan konsisten dengan kodratnya, dia rendah hati mengikuti tempat dimana dia ditakdirkan. itulah waktu....(dalam definisi saya).
begitu hebatnya kekuatan yang diberikan Tuhan kepada waktu sehingga semua definisi waktu itu mampu dia lakukan.
orang (cuma mampu) berkata "tunggu waktu yang tepat atau saatnya belum tepat...kita tunggu saja".

orang juga berkata "kamu percaya An, bila Tuhan menghendaki maka dalam se"klik" - sambil menjentikkan jarinya- maka semuanya akan berubah, hanya dalam sekerdipan mata maka apa yang terjadi di depan matamu akan berubah dari apa yang kamu ingin lihat"
orang bahkan berkata "pintu atau jendela itu tidak selalu terbuka dua kali, An...kesempatan tidak muncul setiap saat"
jadi, mana yang lebih diberi kekuasaan oleh Tuhan di sekeliling manusia.....waktu atau kehidupan?
(bagi saya) kehidupan adalah bagian dari waktu, ada atau tidak ada (kehidupan) saya, sang waktu terus bergerak.
namun waktu tidak selalu menguasai kehidupan!
dia memang bergerak - unstoppable! tapi hanya kehidupan yang bisa bilang kapan saya ingin makan, kapan saya ingin tidur, kapan saya melewati pintu itu, dan kapan saya ingin berkedip. waktu tidak bisa membuat saya menentukan apa mau saya!.
bukan karena sudah jam 12 maka saya makan siang, tapi karena saya harus makan di saat itu.
bukan karena sudah jam 12 maka saya tidur malam, tapi karena saya memang sudah mengantuk pada tengah malam itu.
bukan karena pintu itu terbuka di depan saya maka saya masuk, tapi karena saya tau saya akan menemukan hal indah di baliknya.
bukan karena setiap seperkian detik mata saya berkedip, tapi memang hidup mata saya akan berkedip setiap beberapa detik sekali...dan sebagainya.
bila waktu bergerak dan saya tetap memiliki kehidupan saya seperti saat ini, maka saya memang memutuskan untuk memilih itu dan bukan karena waktu membuat saya hidup seperti ini.
jadi bukan..bukan karena waktu ini adalah waktu di mana orang-orang terdekat saya mengalami saat-saat kesedihan dalam hidup mereka karena kehilangan orang-orang terkasihnya, tapi karena kehidupan menentukannya demikian. dan juga bukan karena shio saya mengatakan bahwa 2 minggu lalu adalah saat ketika saya mendengar banyak berita buruk tapi memang kehidupan telah digariskan demikian.
ketika:
sahabat saya mengabarkan bahwa bayi kecil yang baru keluar dari rahimnya tidak dapat bertahan hidup karena sepsis yang dideritanya;
sahabat saya mengabarkan bahwa ayah tercintanya dalam waktu dua hari sejak jatuh telah pula kembali kepada Tuhan,
sahabat saya tidak tau bagaimana mengatakan pada saya bahwa bunda tercintanya meninggal setelah dia rajin menceritakan kondisi sakit beliau kepada saya,
sahabat saya meneriakkan (dengan kelegaan) bahwa dia memutuskan untuk mengakhiri perkawinan delapan tahunnya.
sahabat (agak jauh) meninggal setelah menderita sakit cukup lama.
sahabat saya kembali sakit dan dirawat.

apakah memang waktu diminta Tuhan mengabarkan itu semua ke saya dalam saat yang bersamaan, dimana tiga orang yang saya sebut pertama adalah benar-benar sahabat dekat saya, ataukah memang kehidupan mereka (dan saya) digariskan demikian....saya lebih memilih yang kedua. kehidupan yang saya pilih dan jalani membuat saya memiliki sahabat-sahabat terbaik itu dan kehidupan kami diliputi dengan saling menguatkan satu sama lain dan bukan (hanya) waktu yang mempererat kami, karena diantara mereka tidak mengenal satu sama lain, mereka adalah sahabat-sahabat dari kehidupan saya di waktu dan tempat yang berbeda.

dan apakah waktu pula yang membuat saya membuat perjanjian untuk menghentikan (berhenti bukan putus) sebuah persahabatan pula? tidak! tapi kehidupan! yang langsung maupun tidak langsung mempengaruhi saya baik yang menyenangkan maupun menyedihkan dan juga kehidupan persahabatan kami ... saya (yakin) bisa melakukannya sejak lama (bila saya bersungguh-sungguh).

(tidak perlu bingung soal waktu dan kehidupan :-), saya hanya bercerita tentang kejadian kehidupan saya beberapa waktu yang lalu. toh saya tidak mempermasalahkan berapa lama saya sudah diberi hidup, saya justru bersyukur bahwa Tuhan amat sangat terlalu baik dan penuh cinta dalam kehidupan dan waktu saya, itu semua membuat saya lebih paham kenapa saya menjadi bagian dari waktu dan kehidupan!... dan (masih) banyak dosa nih!)